sajak "melayu"...
Melayu itu orang yang bijaksana
Nakalnya bersulam jenaka
Budi bahasanya tidak terkira
Kurang ajarnya tetap santun
Jika menipu pun masih bersopan
Bila mengampu bijak beralas tangan
Melayu itu berani jika bersalah
Kecut takut kerana benar
Janji simpan di perut
Selalu pecah di mulut
Biar mati adat
Jangan mati anak
Dalam sejarahnya
Melayu itu pengembara lautan
Melorongkan jalur sejarah zaman
Begitu luas daerah sempadan
Sayangnya kini segala kehilangan
Melayu itu kaya falsafahnya
Kias kata bidal pusaka
Akar budi bersulamkan daya
Gedung akal laut bicara
Malangnya Melayu itu kuat bersorak
Terlalu ghairah pesta temasya
Sedangkan kampung telah tergadai
Sawah sejalur tinggal sejengkal
Tanah sebidang mudah terjual
Meski telah memiliki telaga
Tangan masih memegang tali
Sedang orang mencapai timba
Berbuahlah pisang tiga kali
Melayu itu masih bermimpi
Walaupun sudah mengenal universiti
Masih berdagang di rumah sendiri
Berkelahi cara Melayu
Menikam dengan pantun
Menyanggah dengan senyum
Marahnya dengan diam
Merendah bukan menyembah
Meninggi bukan melonjak
Watak Melayu menolak permusuhan
Setia dan sabar tiada sempadan
Tapi jika marah tak nampak telinga
Musuh dicari ke lubang cacing
Tak dapat tanduk telinga dijinjing
Maruah dan agama dihina jangan
Hebat amuknya tak kenal lawan
Berdamai cara Melayu indah sekali
Silaturrahim hati yang murni
Maaf diungkap senantiasa bersahut
Tangan diulur sentiasa bersambut
Luka pun tidak lagi berparut
Baiknya hati Melayu itu tak terbandingkan
Selaga yang ada sanggup diberikan
Sehingga tercipta sebuah kiasan:
“Dagang lalu nasi ditanakkan
Suami pulang lapar tak makan
Kera di hutan disusu-susukan
Anak di pangkuan mati kebuluran”
Bagaimanakah Melayu abad dua puluh satu
Masihkan tunduk tersipu-sipu ?
Jangan takut melanggar pantang
Jika pantang menghalang kemajuan;
Jangan segan menentang larangan
Jika yakin kepada kebenaran;
Jangan malu mengucapkan keyakinan
Jika percaya kepada keadilan
Jadilah bangsa yang bijaksana
Memegang tali memegang timba
Memiliki ekonomi mencipta budaya
Menjadi tuan di negara Merdeka!
nukilan : Usman Awang
ada apa pada bangsa ???
di pondok kecil...
ikhlas dari
abu_syahid
Di suatu hari ayah berkata
jaga adik mu
ayahkan pergi jauh
ku merayu pada ayah
jangan tinggalkan kami
kerana kami kami
sayangkan ayah
ayah ku pergi berjuang
demi cinta yang murni
untuk menegak kebenaran
di muka bumi
berlakunya kisah
dipondok kecil
...
dipondok kecil di pantai ombak
berbuih putih beralun-alun
disuatu hari ayah berkata
jaga adik mu ayahkan pergi jauh
ku pandang wajah ayah dahinya ku cium
air mata mengalir hatiku pilu
diam-diamlah sayang jangan menangis
doakan ayah semoga sejahtera
diam adik ku sayang jangan menangis
walaupun ayah gugur pastinya dia syahid
wahai abang ku
kemana ayah ??
ku sayang ayah ...
ku cinta ayah ...
duhai adik ku sayang jangan bersedih
ayah mu pergi menyambut seruan Ilahi
tapi ingatlah adik ku
pesanan ayah
belajar berusaha walau dimana jua...
pada Mu Tuhan aku bermohon
dosa ayah ku minta diampunkan
ku iringi doa rahmati dia
tempatkanlah ayah ku bersama kekasih Mu
download MP3
PEMUDA BERSONGKOK LIPAT
ikhlas dari
abu_syahid
PEMUDA BERSONGKOK LIPAT
Pemuda bersongkok lipat
berkain pelikat
pergi ke masjid mencari berkat
Tidaknya terpedaya
dengan mainan sementara
harta mainan dunia
Tatkala tangisnya ia
kerna
hilang ingatnya
lalai jiwanya
keras hatinya
Duduk bersimpuh menanti
akhiran
dosa yang bisa menambah taubat
lalai yang membutuh cambahnya ingat
dan sihatnya untuk beribadat
Dia sedar
usia muda tiada mengira
tarikh-tarikh hilangnya rasa
Dimohonnya ikhlas
suatu yang malaikat tidak mengerti
agar hakislah hijab
dan kenikmatan
dirasakan
Nukilan: Beruang Salji
Pemuda bersongkok lipat
berkain pelikat
pergi ke masjid mencari berkat
Tidaknya terpedaya
dengan mainan sementara
harta mainan dunia
Tatkala tangisnya ia
kerna
hilang ingatnya
lalai jiwanya
keras hatinya
Duduk bersimpuh menanti
akhiran
dosa yang bisa menambah taubat
lalai yang membutuh cambahnya ingat
dan sihatnya untuk beribadat
Dia sedar
usia muda tiada mengira
tarikh-tarikh hilangnya rasa
Dimohonnya ikhlas
suatu yang malaikat tidak mengerti
agar hakislah hijab
dan kenikmatan
dirasakan
Nukilan: Beruang Salji
kalaulah diri dapat menerima...
ikhlas dari
abu_syahid
maafkan aku...
hari ini...

kekalahan menjadi temanku...
dia mengahantuiku...
dia mengawalku...
aku kalah...
aku gagal...
tak mampu berdiri... kaki ku kebas...
lidah ku kelu... tanganku kaku...
tubuh ku lumpuh...
....
kegagalan itu...
sakit untuk ditelan...
sangat pedih di hati...
kesan lama menjadi parut...
....

aku tak boleh terima... kegagalan aku sendiri...
terasa nikmat berputus asa...
yg akan mengasingkan diri dari mereka...
mencari tempat baru untuk aku...
tempat yang lebih baik untuk aku...
tapi...
di mana tempat itu???
wujudkah tempat itu???
.......
aku sukar dipercaya...
nahas aku punya teman seperti mereka...
sbb jelas terasa kehinaan diri ini...
bila disamping mereka...
dimana aku??
hilangkah aku???
....
kabar itu masih tidak didengari...
makin sakit hati ini...
sedangkan mereka... menerima khabar setiap hari...
setiap detik...
tapi aku...
hanya seperti pungguk yang tak bererti... kepada sesiapa...
bila semua orang melihat bulan...
dan akhirnya pungguk itu mati... sambil melihat bulan mengambang...
..........
hati aku masih terbuka...

kalau-kalau khabar itu datang tanpa diduga...
tapi... ego diri menafikan segalanya...
aku tertunduk...
biarlah mereka bersama mereka...
aku ??
.....
aku tahu aku jatuh...
sedang makhluk2 itu melambai2 kepadaku...
memanggil-manggil namaku...
agar aku turun dari gerabak ini...
terfikir tentang itu... aku dan gerabak...???
.....
malam itu...
aku menangis sendirian...
meratapi kegagalanku...
menelan kekalahanku...
tiada ubat...
....
ego itu masih menebal...
biarkan aku sendirian...
mencantas semak di sekeliling...
membuat haluan baru...
tapi bila aku paling ke belakang...
tiada orang...

....
wahai sang pungguk yang malang...
terimalah kekalahanmu...
telanlah ia...
masa akan tunjukkan penawarnya...
sabarlah....
maafkan aku...
hari ini...

kekalahan menjadi temanku...
dia mengahantuiku...
dia mengawalku...
aku kalah...
aku gagal...
tak mampu berdiri... kaki ku kebas...
lidah ku kelu... tanganku kaku...
tubuh ku lumpuh...
....
kegagalan itu...
sakit untuk ditelan...
sangat pedih di hati...
kesan lama menjadi parut...
....

aku tak boleh terima... kegagalan aku sendiri...
terasa nikmat berputus asa...
yg akan mengasingkan diri dari mereka...
mencari tempat baru untuk aku...
tempat yang lebih baik untuk aku...
tapi...
di mana tempat itu???
wujudkah tempat itu???
.......
aku sukar dipercaya...
nahas aku punya teman seperti mereka...
sbb jelas terasa kehinaan diri ini...
bila disamping mereka...
dimana aku??
hilangkah aku???
....
kabar itu masih tidak didengari...
makin sakit hati ini...
sedangkan mereka... menerima khabar setiap hari...
setiap detik...
tapi aku...
hanya seperti pungguk yang tak bererti... kepada sesiapa...
bila semua orang melihat bulan...
dan akhirnya pungguk itu mati... sambil melihat bulan mengambang...
..........
hati aku masih terbuka...

kalau-kalau khabar itu datang tanpa diduga...
tapi... ego diri menafikan segalanya...
aku tertunduk...
biarlah mereka bersama mereka...
aku ??
.....
aku tahu aku jatuh...
sedang makhluk2 itu melambai2 kepadaku...
memanggil-manggil namaku...
agar aku turun dari gerabak ini...
terfikir tentang itu... aku dan gerabak...???
.....
malam itu...
aku menangis sendirian...
meratapi kegagalanku...
menelan kekalahanku...
tiada ubat...
....
ego itu masih menebal...
biarkan aku sendirian...
mencantas semak di sekeliling...
membuat haluan baru...
tapi bila aku paling ke belakang...
tiada orang...

....
wahai sang pungguk yang malang...
terimalah kekalahanmu...
telanlah ia...
masa akan tunjukkan penawarnya...
sabarlah....
maafkan aku...
ketika si putih cuba bertahan...
ikhlas dari
abu_syahid
bukan hendak menjadi hakim yang menghukum...
tetapi pelik bila berada di dalam khalayak ramai yang sangat mengelirukan...
pelbagai situasi dan kondisi yang pasti menerjah kelopak mata sang daie yang naif setia...
bagaikan satu-satunya kain putih yang cuba merentas lautan dakwat hitam...
dicuba dan dicuba... berkali-kali...

masih tak dapat bertahan...
mungkin inilah kisah hidup sang manusia...
yang pasti takkan sunyi dengan rintangan dan cabaran...

dari dahulu lagi... hampir setiap kali usrah...
itulah yang ustaz abdul rahman akan sampaikan...
"ikhwah sekalian... dakwah ini bukan jalan yang senang..."
memang benar...

tiket utk ke syurga bukan sebegitu murah...akhi...
..........hhhhmmmm......
teringat satu kata-kata sahabat....
"sang Daie itu akan tercabar thabatnya dalam 3 kondisi... pertama... ketika di IPT... kedua... selepas bekerja... ketiga... selepas berkahwin..."
jangan lemah wahai ikhwah...
jalan ini ,masih panjang berjela di hadapan...
maut kita... tiada siapa yang tahu... hanya ALLAH...
beramal...
jangan tidur...
beramal...
jangan malas....
beramal...
jangan khayal...
beramal...

jangan futur...!!!
akhi...
mereka dalam kegelapan ...
tolonglah...
pastikanlah...
segeralah...
yang kita...
berikan mereka "cahaya" itu...

Luka pedih umat yang kebas. Umat menderita kerana hilangnya tonggak penyatu kerajaan, wakil kesatuan kekuatan. Malang itu bertimpa-timpa dan luka itu semakin parah. Bukan sahaja tidak diubati malah makin melebar. Bertambah pedih hakikat apabila luka pedih itu terasa kebas oleh ummatal Quran, umat Islam yang tidak terasa apa-apa apabila mercu lambang Islam itu ranap dimamah musuh-musuh Islam, tidak kira Yahudi mahupun munafik. Luka itu terasa lagi kebasnya apabila tubuh itu diratah tapi tuannya masih lagi bergembira! Luka itu dibadan yang disuntik pelali hedonisme dan kejahilan, racun syirik dan taklid, sedangkan penawar ada di rak-rak rumah. Ayuh bangkitlah umatku! Masukkan perhiasan ayat-ayat itu dalam jiwamu!
akhi... biarlah bergegar 7 lapisan bumi dan runtuh 7 petala langit... takkan pudar ayat ini dlam janji ALLAH...
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu 47:7..."
tetapi pelik bila berada di dalam khalayak ramai yang sangat mengelirukan...
pelbagai situasi dan kondisi yang pasti menerjah kelopak mata sang daie yang naif setia...
bagaikan satu-satunya kain putih yang cuba merentas lautan dakwat hitam...
dicuba dan dicuba... berkali-kali...

masih tak dapat bertahan...
mungkin inilah kisah hidup sang manusia...
yang pasti takkan sunyi dengan rintangan dan cabaran...

dari dahulu lagi... hampir setiap kali usrah...
itulah yang ustaz abdul rahman akan sampaikan...
"ikhwah sekalian... dakwah ini bukan jalan yang senang..."
memang benar...

tiket utk ke syurga bukan sebegitu murah...akhi...
..........hhhhmmmm......
teringat satu kata-kata sahabat....
"sang Daie itu akan tercabar thabatnya dalam 3 kondisi... pertama... ketika di IPT... kedua... selepas bekerja... ketiga... selepas berkahwin..."
jangan lemah wahai ikhwah...
jalan ini ,masih panjang berjela di hadapan...
maut kita... tiada siapa yang tahu... hanya ALLAH...
beramal...
jangan tidur...
beramal...
jangan malas....
beramal...
jangan khayal...
beramal...

jangan futur...!!!
akhi...
mereka dalam kegelapan ...
tolonglah...
pastikanlah...
segeralah...
yang kita...
berikan mereka "cahaya" itu...

Luka pedih umat yang kebas. Umat menderita kerana hilangnya tonggak penyatu kerajaan, wakil kesatuan kekuatan. Malang itu bertimpa-timpa dan luka itu semakin parah. Bukan sahaja tidak diubati malah makin melebar. Bertambah pedih hakikat apabila luka pedih itu terasa kebas oleh ummatal Quran, umat Islam yang tidak terasa apa-apa apabila mercu lambang Islam itu ranap dimamah musuh-musuh Islam, tidak kira Yahudi mahupun munafik. Luka itu terasa lagi kebasnya apabila tubuh itu diratah tapi tuannya masih lagi bergembira! Luka itu dibadan yang disuntik pelali hedonisme dan kejahilan, racun syirik dan taklid, sedangkan penawar ada di rak-rak rumah. Ayuh bangkitlah umatku! Masukkan perhiasan ayat-ayat itu dalam jiwamu!
akhi... biarlah bergegar 7 lapisan bumi dan runtuh 7 petala langit... takkan pudar ayat ini dlam janji ALLAH...
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu 47:7..."
bila tiba masanya...
ikhlas dari
abu_syahid
bukan untuk mendoakan...
tetapi... tiba-tiba muncul dalam fikiran...
apa agaknya reaksi kita bila mendapat tahu...
bila salah seorang sahabat seperjuangan kita ...
dah tiada...

..............
susah nak bayangkan...
mungkinkah perjalanan ini semakin kuat atau sebaliknya...??
ingtlah sahabat...
rasa syukur itu akan datang dengan jelas bila sesuatu sudah hilang dari pandangan...
tetapi... tiba-tiba muncul dalam fikiran...
apa agaknya reaksi kita bila mendapat tahu...
bila salah seorang sahabat seperjuangan kita ...
dah tiada...

..............
susah nak bayangkan...
mungkinkah perjalanan ini semakin kuat atau sebaliknya...??
ingtlah sahabat...
rasa syukur itu akan datang dengan jelas bila sesuatu sudah hilang dari pandangan...
kelompongan... dlm syura...
ikhlas dari
abu_syahid


hhmm..
teringat balik bila time2 team r2j3 nak wat hi-impact... -->syaitanisme…
berapa punya banyak meeting daa...
ada dlm salah satu meeting tu...
ade sorang sahabat menyatakan pendaptnya...
"apa kata kalau kita tak buat hi-impact dan focus pada sharing dan buku??"
ana pun rasa betul gak sbb dia ada bagi alasan seperti...
priority buku dan sharing lebih besar dr hi-impact...
tp ada lak sorang akhwat menjawab...
" jgn la kita berfikiran cetek sgt... bla... bla... bla..."
so, point die... nak wat hi-impact jgak...
sabo je la akhi kita yg sorang ni bila dengar akhawat respond gitu...
dia hanya akur je...
sabar je la ye akhi...
then... setelah minggu demi minggu...
selesailah hi-impact yg telah diplan selama ni...
habislah penat lelah semuanya... tapi persoalannya...
dimana buku???
dimana sharing??
parents kita nak dgr sharing ke nak tgk hi-impact??
siapa pic buku r2j3 ???
"haaa... tu lah dulu org kata nak wat buku... tak nak plak... degil ... keras kepala... sekarang... tengok... mana buku ngan sharing??..."
"haaa... siapa yang berfikiran cetek sekarang???"

ini lah perasaan yang digambarkan oleh sorang sahabat kita...
ana faham perasaan beliau...
tetapi... utk menguruskan satu tanzim... keputusan syura..
mesti ditaati...
tidak boleh cakap2 belakang bila keputusan telah diputus...
kalau nak berdebat... habiskan dlm syura...
dan amir perlu membuat keputusan yang penting dlm membuat keputusan...
amir tak kan dapat membuat satu keputusan yang boleh memuaskan hati semua orang...
sbb itu prinsip syura perlu ditaati...
selagi mana dia mentaati amir dan tanzim...
oleh sbb itu....
bila satu tanzim telah melakukan kesilapan...
itu bukan kesilapan individu...
itu adalah kesilapan tanzim...
kenapa?? sbb telah disyurakan...
sbb tu dlm syura...
kene terima keputusan dgn hati yang terbuka...

dan jgn ckp belakang...
kalau tak...
kelompongan ukhuwah tak kan dapat ditampal...
nasyid lah lagu "kau kawan sahabat dan teman" sampai satu dunia dgr...
tapi kalau prinsip syura tak ditaati...
jawapannya... useless...
Adab dalam syura; bila seseorang itu diterima usulnya hendaklah ia beristighfar dan bila usulnya ditolak hendaklah ia bersyukur.
Dalam sistem syura, tidak ada terma lobi-melobi dan sebagainya.
Maksudnya: “Hendaklah kamu bermesyuarat dengan mereka itu dalam satu perkara, setelah kamu bulat menerimanya, bertawakallah pada Allah.”(Ali Imran: 159)
Keputusan yang dibenarkan syariat, jangan diungkaikan lagi oleh satu mesyuarat lain. Teruslah laksanakan dan bertawakal kepada Allah.
ana tertarik ngan kata2 classmate ana yang aktif dlm debate…
“dlm debat, satu kekalahan tidak akan berpunca dr individu.. tetapi berpunca dari team itu sendiri… kalau satu ahli lemah atau silap… bermakna bukan salah individu itu tetapi team dynamik yg lemah… sbb debat adalah tentang team… not individual…”
ini adalah satu petikan dr blog lain ttg syura...
Usaha mencapai kata sepakat dan memutuskan sesuatu perkara penting dalam masyarakat Umat Islam, seperti memilih pemimpin yang berkemampuan, cara atau pendekatan menyampaikan da’wah Islamiyyah atau amar maa’ruf dan nahi munkar, berjihad dan berbagai urusan lain menyangkut kepentingan umat Islam, melalui majlis mesyuarat atau syura, adalah salah satu sifat orang-orang mu’min.
Allah SWT telah berfirman, maksudnya: “ Dan orang-orang yang menyambut perintah Tuhannya, serta mereka mendirikan sembahyang dengan sempurna dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka, membelanjakan sebahagian dari apa yang kami(Allah) berikan kepadanya ( demi untuk kepentingan agama Allah) “ (Surah As-Syura 38:42)
SIFAT-SIFAT ORANG MU’MIN DAN PEJUANG ISLAM
Dari ayat Surah As-Syura’ ini dapatlah difahami bahawa di antara sifat-sifat orang mu’min dan pejuang Islam ialah :
PERTAMA :MENYAMBUT SERUAN ALLAH DENGAN RELA.
Seorang mu’min yang benar sentiasa merasa senang dan rela hati menyambut segala seruan dan menjaga titah perintah Allah SWT, walaupun ada kalanya sebahagian dari perintah itu menuntut pengorbanan dan kesabaran yang tinggi. Kerelaan hati yang disertakan dengan amalan dan pengorbanan dalam melaksanakan titah perintah Allah adalah suatu tanda kesempurnaan iman seseorang hamba terhadap Tuhannya.
KEDUA : MENDIRIKAN SEMBAHYANG.

Mendirikan sembahyang yang wajib mahu pun sunat sebagai tanda bahawa mereka mempunyai hubungan yang begitu akrab dan hangat dengan Allah SWT. Mereka menyandarkan keyakinan kepada Allah Azza Wajalla dan mengharap pertolongan dariNya.
KETIGA: MELAKSANAKAN TUNTUTAN SYURA.

Seterusnya sifat orang mu’min yang ketiga yang disebut oleh Allah SWT dalam ayat ini, ialah menjadikan syura sebagai satu amalan dalam memelihara kesejahteraan masyarakat mereka. Setiap urusan penting orang-orang mu’min itu, apa lagi untuk urusan perjuangan menegakkan kembali syari’at dan peraturan Islam wajar diputuskan melalui majlis perbincangan(syura) kerana sebab-sebab berikut :
(i) Hendak mencari dan mengambil pendapat yang paling baik dari berbagai-bagai pendapat.
(ii) Kerana menghargai pendapat para sahabat, sebab di antara tanda persahabatan itu ialah bersikap harga-menghargai.
(iii) Kerana menghilangkan rasa tidak puas hati. Seseorang akan berpuas hati dan merasa telah menunaikan tanggungjawabnya, apabila ia telah ikut serta memberi pandangan dan nasihat dalam sesuatu urusan.
(iv) Untuk menanam rasa bertanggungjawab, mengambil berat dan perihatin terhadap sesuatu perkara atau urusan yang menyangkut kepentingan umat serta mengambil kata sepakat di dalam sesuatu urusan.
(v) Kerana mendidik pemimpin dan ahli cara-cara bermasyarakat dan berpolitik dengan suatu kebiasaan yang baik dan diredhoi Allah. Semua itu adalah antara hikmah dan tujuan-tujuan diwajibkan orang-orang mu’min terikat dengan peraturan Majlis Syura (mesyuarat)
Oleh yang demikian syura menempati kedudukan yang sangat penting dalam jama’ah dan masyarakat Umat Islam. Dalam ayat surah As-Syura tadi, kita dapat melihat Allah SWT, menyebut perintah mengadakan Syura selepas menyebut kewajiban sembahyang. Para ulama’ mengatakan bahawa sebutan syura yang disejajarkan dengan ibadat wajib menunjukkan perintah syura juga bertaraf wajib sebagaimana diperintahkan orang-orang mu’min bersembahyang dan mengeluarkan zakat.
Di dalam mesyuarat hendaklah diperhatikan syarat-syarat dan adab-adab. Setiap orang yang terlibat mestilah dapat mengikut disiplin agar keputusan syura itu tepat dan bersih serta diberkati oleh Allah. Di antara disiplin dan adab itu ialah:
1. Bertujuan kerana Allah atau ingin mencari kebenaran serta ingin melaksanakannya, bukan kerana kemegahan atau hobi atau riyak atau menunjuk-nunjuk kebolehan.
2. Setiap orang hendaklah hatinya merasa takut kepada Allah kerana kalau-kalau segala yang dibincangkan tidak tepat atau tidak selaras dengan kehendak Allah dan Rasul.
3. Hendaklah setiap orang memasang niat agar kebenaran itu datang daripada orang lain bukan dari dirinya sendiri agar terlepas dari sifat-sifat riyak, bermegah-megah atau ujub.
4. Bila terlihat kebenaran yang diucapkan oleh mana-mana anggota dalam majlis syura itu hendaklah penuh rendah diri dapat menerimanya.
5. Kalau kebenaran dapat dikeluarkan dari mulutnya sendiri hendaklah bersyukur kepada Allah SWT kerana Allah telah memperlihatkan kebenaran kepadanya.
6. Hendaklah menghormati pandangan atau pendapat anggota. Kalau dia sedang bercakap, jangan memotong cakapnya. Jika dia belum habis bercakap jangan disuruh berhenti. Kalau apa yang dikatakannya benar, ucaplah terima kasih, doakan Allah berikan keberkatan (jazakallah). Kalau salah, jangan menghina. Kalau mampu, betulkan dengan penuh kasih sayang dan mesra, dengan hujah-hujah yang bernas. Kalau kita yang salah, minta ampunlah kepada Allah dengan penuh rendah diri mahu menerima hakikat kesalahan itu.
7. Hendaklah diakhiri majlis itu dengan membaca doa kifarat atau minta ampun pada Allah.
8. Jangan mujadalah. Jangan tinggikan suara. Kalau berbeza pendapat atau menyalahi nas, hendaklah tawaquf.
9. Kalau pandangan tidak dapat disatukan, maka demi perpaduan hendaklah terima pandangan ketua.
ni link ke....kata itu memberi erti...oleh akhi munir...
* watak2 diatas tiada kene mengena dgn sesiapa...
"ukhuwah itu terlalu manis untuk diungkap... kehadirannya mungkin tak dapat dizahirkan... tapi nikmatnya... SUBHANALLAH... terlalu indah... "
wassalam...
Subscribe to:
Posts (Atom)
